oleh

Asyiknya Menikmati Perjalanan dengan KRI Teluk Lada-521

Kapal Angkut Tank Amfibi, Dilengkapi Ruang Pengendali Heli

Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Teluk Lada-521 elegan dan modern dengan berbagai peralatan serta fasilitas penunjang. Kapal perang ini tidak hanya digunakan perang, namun juga untuk kegiatan lainnya, salah satunya bhakti social.

Juhra Nasir, Sorong

SELASA (30/6), ratusan paket sembako ditampung dalam tank deck KRI Teluk Lada-521, kemudian diantarkan ke Perairan Arar, selanjutnya dibagi-bagikan kepada ratusan nelayan. Perjalanan dengan KRI Teluk Lada-521 begitu nyaman, para tamu dijamu di dalam ruangan ball room yang nyaman ber-AC dan modern

KRI Teluk Lada-521 yang dioperasikan Koarmada III Sorong, melewati proses pembuatan selama 3 tahun. Awal pembuatan KRI ini tahun 2016, diresmikan 26 Februari 2019 di Lampung. Spesifikasi panjang KRI 117 meter dan lebar 16,4 meter, bisa memuat 478 penumpang termasuk 111 ABK, 6 kru heli serta pasukan. Selain itu, KRI juga bisa memuat 15 tank.

Setelah diresmikan 26 Februari 2019 lalu, KRI Teluk Lada beroperasi di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia Timur, mulai dari Ambon, Merauke, Timika, Dobo, Tual, Kaimana, Sorong, Manokwari, Nabire, Biak, Serui hingga ke Jayapura. KRI Teluk Lada-521 ini terdiri dari 7 deck.

Komandan KRI Teluk ­Lada-­521, Letkol (P) Gunawan Hutauruk, lulusan AAL tahun 2000, sudah satu setengah tahun menjabat Komandan KRI Teluk Lada. Letting 46 AAL ini merupakan orang pertama yang menjabat Komandan KRI Teluk Lada saat diresmikan. 

Letkol Gunawan mengungkapkan, KRI Teluk Lada-521 merupakan kapal jenis ­angkutan tank yang digunakan untuk operasi amfibi. “­Seperti mengangkut pasukan ­pendarat marinir berserta perlengkapan dan tank yang mendaratkan marinir ke pantai. KRI ini ­juga bisa langsung memantau di daerah pantai yang sesuai dengan karakteristiknya,” ­jelasnya kepada Radar Sorong, kemarin.

KRI Teluk Lada juga bisa digunakan untuk patroli ­keamanan laut, melaksanakan dukungan pergeseran pasukan dan ­logistik masa damai, pelaksanaan operasi SAR dan bisa digunakan untuk melaksanakan bantuan bencana. KRI ini juga bisa melaksanakan operasi ­mandiri karena memiliki sistem ­senjata untuk pertahanan ­sendiri.  “KRI ini sudah masuk dalam unsur atau kapal perang Republik Indonesia di Koarmada III sehingga KRI Teluk Lada ini sudah menetap di Sorong,” ungkapnya.

KRI Teluk Lada memiliki berbagai fasilitas, ada ­ruangan tidur pasukan, ruangan untuk mengangkut tank, kendaraan maupun barang. Fasilitas ­lainnya adalah peralatan ­navigasi dan peralatan ­komunikasi yang memadai dan juga dilengkapi dengan ruangan kesehatan, ruang melaksanakan operasi kecil dan ruang isolasi. “Kami juga memiliki beberapa ruangan diantaranya ruang pasukan dimana ada ruangan ABK Tamtama, ruangan ABK ­Bintara, kemudian deck ada ruangan Perwira, ruangan VIP termasuk ruangan Pilot dan ruangan Perwira Pasukan. Kami juga memiliki ball room atau long room,” terangnya.

KRI Teluk Lada dapat melakukan operasi secara terus ­menerus selama 16 hari ­dengan jumlah pasukan dan penumpang penuh. Untuk bahan Bakar, KRI menggunakan B0 dan B30, memiliki 930 KL ­bahan bakar yang ada didalam tanki bahan bakar dengan jumlah air tawar 600 Kl. “Bahan bakar itu bisa digunakan untuk menempuh perjalanan 16 hari dalam operasi penuh secara terus menerus. Tapi kalau kita operasi biasa itu bisa digunakan selama 3 ­bulan,” ungkapnya. KRI juga memiliki ruang untuk pengo­perasian atau pengendalian heli di bagian belakang kapal. Ruangan ini salah satu ­fasilitas luar biasa yang dimiliki KRI Teluk Lada. 

Untuk pertahanan, KRI Teluk Lada dilengkapi meriam di haluan luar, mitraliur di atas kapal, 2 buah caft untuk penge­labuan jika ada peluru ­kendali musuh yang mendekati kapal, serta puluhan lampu sorot. “KRI ini memang belum pernah digunakan untuk perang, tapi di Bulan September 2019 kemarin kita mengikuti latihan gabungan TNI di Banongan,” ungkapnya.

Selama menjadi Komandan KRI Teluk Lada, Gunawan mengaku kendala yang dihadapi sangat minim. Selama berlayar khususnya di per­airan Indonesia Timur yang ­cuacanya cukup ekstrem, Gunawan mengaku dibutuhkan ­penyesuaian dengan pola pergerakan kapal. “Kalau kendala lainnya, khusus di ­wilayah Indonesia Timur ini fasilitas pendukung untuk perbaikan industri kemaritiman itu belum memadai,” imbuhnya. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed