oleh

Ancam Tutup Objek Wisata dan Boikot Pemilukada Gubernur

WAISAI – Tokoh Intelektual Adat Suku Maya Kabupaten Raja Ampat mengritik sekali menolak dengan tegas hasil kerja Panitia Seleksi (Pansel) DPRDPB jalur Otonomi Khusus (Otsus), karena diduga ada unsur ketidaksenangan kepada tiga calon yang diusung masyarakat adat Suku Maya dan masyarakat adat di Raja Ampat. 

Kritikan sekaligus penolakan hasil pansel tersebut disampaikan sejumlah toioh Intelektual adat suku Maya Raja Ampat saat pertemuan di salah satu rumah warga di Waisai, Sabtu (11/7).  Pertemuan ini guna membahas hasil pansel yang menurut mereka tidak dapat diterima oleh masya­rakat adat Suku Maya. Pasalnya, dari tiga nama calon yang diusung yakni Abraham ­Goram Gaman, Yohanis Daat dan Yusuf Aitem, tak satupun diantaranya yang terpilih.

Tokoh Senior Intelektual Suku Maya Dr. Ir. Gasper Louw,MSi kepada wartawan menyatakan, ada tiga poin ultimatum yang menjadi ­hasil pembahasan yang ditujukan untuk menjadi perhatian ­khusus Gubernur Papua ­Barat sebelum hasil pansel DPRPB jalur Otsus disahkan. Menurutnya, dari tiga poin tersebut, pertama adalah memper­tanyakan kredibilitas Ketua Pansel karena sebelumnya yang bersangkutan telah ­ditetapkan tidak lolos saat penyeleksian calon DPR jalur Otsus Papua Barat untuk Raja Ampat, sehingga diduga ada unsur ketidaksenangan ke­pada para calon dari Raja Ampat dan menghambat ­mereka untuk terpilih dalam kuota 11 Kursi DPR Jalur Otsus ini. 

Poin kedua, bahwa 2 dari 3 calon yang dicalonkan oleh masyarakat adat Raja Ampat telah memenuhi seluruh ­syarat Pansel provinsi Papua Barat, baik itu melalui proses pe­rekrutan maupun mekanisme penilaian. Selain itu, Abraham Goram Gaman dan Yohanis Daat telah melalui proses perekrutan yang jelas, yakni musyawarah besar (Mubes) Dewan Adat Suku Maya, ­serta Yusuf Aitem yang mendapatkan mandat seluruh suku di Raja Ampat untuk maju sebagai calon DPRPB jalur Otsus. ”Jika mempertanyakan nilai, penilaian dari Pansel Pro­vinsi Papua Barat, dua orang calon dari Raja Ampat, memiliki nilai yang tinggi. Saudara Abra­ham Goram Gaman memiliki nilai 193, ­Yohanis Daat memi­liki nilai 183, lebih tinggi dari beberapa caleg yang telah ditentukan oleh Pansel,” kata Gasper Louw.

Poin ketiga, mewakili masya­rakat Suku Maya secara ­khusus dan masyarakat adat Raja Ampat secara umum, sebagai keinginan untuk memiliki keterwakilan di DPR pro­vinsi Papua Barat, sehingga ­mereka menerima siapapun yang ­terpilih dari 3 (tiga) orang yang dicalonkan dari Raja Ampat. ”Intinya, kami masyarakat Adat Suku Maya meminta Gubernur Papua Barat agar meninjau kembali hasil penetapan ­Pansel DPR jalur Otsus Papua Barat keterwakilan khusus dari ­Raja Ampat,” tandasnya.

Menurutnya, masyarakat adat Suku Maya di Raja Ampat juga ingin ada keterwakilan kursi parlemen jalur Otsus. Karena itu, pihaknya dari masyarakat adat suku Maya akan mengambil langkah-­langkah adat dan tindakan tegas jika tiga poin diatas tidak diperhatikan dan ditindaklanjuti oleh Gubernur Pro­vinsi Papua Barat. “Untuk membuktikan langkah dan tin­dakan tiga poin kami masyarakat adat suku maya memberikan ultimatum tegas dengan mela­kukan pemalangan objek-­objek wisata kebanggaan Raja ­Ampat dan beberapa tempat vital dengan pengangkatan sumpah adat. Bahkan kami tidak akan berpartisipasi dalam proses pemilukada Provinsi Papua Barat atau boikot pemilukada Provinsi Papua Barat jika hal ini tidak diperhatikan dan ditinjau secara seksama,” ­tegas Gasper Louw. (hjw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed