oleh

7 Sapi Positif Terinfeksi Brucellosis

Dari 94 Ekor yang Diperiksa Karantina Pertanian Kelas I Sorong

SORONG – Jelang Idul Adha 1442 Hijriyah pada Selasa (20/7) mendatang, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Sorong memperketat pengawasan lalulintas hewan ternak yang menjadi kebutuhan saat kurban. Hasilnya, setelah dilakukan pemeriksaan, petugas menemukan 7 ekor sapi yang positif brucellosis dari 94 ekor yang diperiksa. Brucellosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri brucella sp.

PMB OPBJJ-UT Sorong

Sapi-sapi tersebut merupakan hewan kurban yang didatangkan dari Maluku tengah, Malaku Tenggara Barat dan Halmahera Tengah. Ketiga daerah tersebut merupakan sentra penghasil sapi potong dan daerah tersebut masih ditemukan adanya penyakit brucellosis. Sapi tersebut dimasukkan ke Sorong melalui pelabuhan Arar SP3, yang merupakan pintu keluar masuk komoditas pertanian dan peternakan yang telah ditetapkan oleh Kementan RI.

Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Sorong, I Wayan Kertanegara mengatakan, 7 sapi tersebut dinyatakan positif brucellosis berdasarkan hasil uji laboratorium. Ia mengatakan, sapi yang sudah terinfeksi bakteri tersebut dapat menularkannya ke sapi lainnya. Oleh karenanya, petugas karantina mengambil langkah untuk merekomendasikan kepada pemilik untuk segera memotong hewan ternak tersebut.

“Dari 94 sapi yang masuk ke Sorong, 7 ekor diantaranya positif brucellosis, sehingga yang layak untuk dibebaskan dan masuk ke Sorong adalah sebanyak 87 ekor. Hewan ternak yang terinfeksi bakteri tersebut tidak disarankan untuk dipelihara, karena dikhawatirkan akan menular kepada sapi lainnya melalui koitus atau melalui air liur, maupun cairan tubuh lain dari sapi tersebut,” terang Wayan.

Wayan yang juga merupakan dokter hewan mengatakan, meskipun harus segera disembelih, daging dari sapi tersebut masih boleh dikonsumsi. Namun bagian jeroannya lebih baik tidak dikonsumsi karena bakal menjadi sumber penyakit. “Sapi yang seperti ini harus segera disembelih, dan penyembelihan dilakukan oleh petugas pemotongan hewan yang juga diawasi oleh dokter hewan dinas setempat. Dengan cara pengolahan yang baik, daging sapi tersebut masih boleh dikonsumsi. Namun organ jeroannya harus langsung dikubur dan tidak bisa dikonsumsi sama sekali, karena itu adalah sumber penyakit,” jelasnya. Organ jeroan sapi yang sudah terpapar brucellosis jika menular ke manusia akan menyebabkan kemandulan dan atritis (peradangan sendi). Sehingga, Wayan menekankan bahwa penyakit tersebut harus tetap diwaspadai.

Dalam dua bulan terakhir tercatat sudah ada 499 ekor yang masuk ke Sorong. Sebanyak 388 ekor sapi masuk di bulan Juni, dan 111 ekor sapi masuk pada bulan Juli. Selain sapi yang masuk, Karantina Pertanian juga mencatat sebanyak 339 ekor sapi asal Kabupaten Sorong diekspor ke Raja Ampat dan Timika.

Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Sorong masih terus intens melakukan pengawasan terhadap lalulintas keluar-masuknya hewan ternak jelang Idul Adha. Hewan ternak yang akan masuk ke Sorong juga harus memenuhi beberapa kriteria tertentu seperti kelengkapan dokumen karantina dari daerah asal, dan daerah tujuan. Jalur masuk hewan ternak tersebut harus melalui tempat-tempat yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Selanjutnya  ternak sapi tersebut wajib dilaporkan kepada petugas karantina untuk dilakukan tindakan karantina sesuai SOP yang berlaku. (ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed