oleh

28 Alat Pendeteksi Gempa di Papua dan Papua Barat

-Metro-95 views

Januari hingga Mei Telah Terjadi Gempa Sebanyak 501 Kejadian

SORONG-Alat Pendeteksi Gempabumi atau Seismograf memiliki instrumen sensitif yang dapat mendeteksi gelombang seismik yang dihasilkan oleh gempa bumi. Gelombang seismik yang terjadi selama gempa tergambar sebagai garis bergelombang pada seismogram.

PMB OPBJJ-UT Sorong

Kepala BMKG Sorong, Rully Hermawan mengatakan kepada Radar Sorong, Kamis (3/6) bahwa jumlah total Seismograf adalah 28 untuk seluruh Papua dan Papua Barat termasuk ada sebagian milik Ambon Maluku. Khusus untuk Papua Barat jumlahnya 16. Untuk Kota Sorong ada 2 yang dipasang di Kantor BMKG dan Puncak Rafidin, sementara di Raja Ampat ada 5 yang dipasang. Alasannya dipasang di Raja Ampat terbanyak karena merupakan pintu masuk gempa mulai dari Maluku melalui Raja Ampat.

“Kenapa tersebar di Papua Barat, Papua dan Maluku agar jejaring gempanya menjadi lebih maksimal dalam pengamatan atau pendeteksi. Karena sesarnya mulai dari Maluku, yang melalui Raja Ampat kemudian ke Kota Sorong. Kenapa kita upayakan di Raja Ampat lebih banyak karena Raja Ampat pintu masuk jalur sesar. Menurut pengamat kita Raja Ampat merupakan daerah yang cukup aktif juga. Sensor itu akan dikirim secara realtime kepada kita, begitu juga di Sorong akan diolah kemudian menjadi satu informasi gempa,” jelasnya.

“Terima kasih kepada Pemda yang telah memberikan lahan atau ruang untuk memasang peralatan Seismograf shelter sensor seismic pemantau gempa bumi milik BMKG. Dimana shelter ini digunakan untuk monitor secara realtime gempa yang terjadi di wilayah Papua Barat,” sambungnya.

Kepala BMKG Sorong, Rully Hermawan, mengatakan, dari Januari hingga Mei telah terjadi gempa sebanyak 501 kejadian gempa yang tercatat di stasiun Geofisika Sorong. Aktivitas Gempabumi di sekitar wilayah Papua Barat selama bulan Mei terjadi sebanyak 120 kejadian yang didominasi oleh gempabumi dengan kekuatan 3<M<5 sebanyak 89 kejadian dan juga di dominasi oleh gempa bumi dengan kedalaman dangkal antara 0-60 Km.

“Sebagian besar kejadian gempa bumi tersebut disebabkan oleh aktivitas sesar lokal. Dari 120 kejadian gempabumi yang tercatat terdapat 3 kejadian gempabumi yang dirasakan dengan intensitas antara I hingga III MMI,” katanya.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dan meingkatkan pemahaman bahwa daerah Papua Barat merupakan daerah sisi sesar, memiliki tingkat kegempaan yang tinggi dan potensi tsunami juga ada. “Jadi diharapkan warga masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan dan pemahaman. Yang terpenting senantiasa mengambil informasi dari BMKG, hindari hoax karena hoax sangat merugikan,” pungkasnya.(zia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed