oleh

Warga Diimbau Rapid Test

-Metro-66 views

SORONG– Sejumlah daerah di Kota Sorong sudah ditetapkan sebagai zona merah Covid-19, atau daerah yang memiliki warga positif Covid-19. Oleh karena itu warga diimbau untuk melakukan rapid test.

Wakil Ketua DPRD Kota Sorong, Elisabeth Nauw yang juga membawahi bidang kesehatan mengimbau kepada warga Kota Sorong untuk bersedia melakukan pemeriksaan rapid test. 

“Bapak, Ibu, tolong pikirkan bahwa ini semua bukan menyangkut bapak ibu. 

Tetapi virus ini dapat menular dengan cepat kepada orang lain,” terang Wakil Ketua DPRD Kota Sorong, Elisabeth Nauw, yang juga membawahi bidang kesehatan usai menghariri Rapat Paripurna di Gegung DPRD Kota Sorong.

Menurutnya, jika kebutuhan ekonomi warga menjadi alasan paling utama untuk menolak rapid test, lantas bagaimana jika virus itu mulai menyebar dari satu oreng ke orang lain, maka kehidupan mereka akan sama-sama terancam. “Marilah bantu pemerintah, tim satgas dan tim medis yang telah bekerja dengan sangat luar biasa untuk bapak ibu harus di rapid. Tes ini harus dilakukan, sehingga penularan Covid-19 segera usai dan tak ada lagi penambahan kasus yang meningkat setiap harinya,” ungkapnya.

Sementara itu terkait rencana karantina wilayah di kompleks Jembatan Puri (Jempur) nampaknya akan menuai kontra dari masyarakat setempat. Terutama bagi mereka yang sehari-harinya beraktivitas dan mencari nafkah di Pasar Ikan Jempur. Pasalnya, jika karantina wilayah diberlakukan, diperkirakan akan membuat aktivitas jual beli di Jempur lumpuh.

Yuli, salah seorang pedagang ikan disana mengaku usai diberitakan bahwa Jempur disebut sebagai zona merah penyebaran Covid-19, dirinya mengaku pendapatannya sudah menurun drastis akibat sepinya pembeli. Apalagi jika nanti karantina wilayah harus diberlakukan dan pasar tutup, yang ditakutkan tak ada lagi sumber penghasilan.

“Kami punya tempat makan di sini, kalau Bapa (Wali Kota Sorong) tutup Jembatan Puri, terus kira-kira mau mencari makan di mana. Gara-gara berita Jembatan Puri zona merah saja, kami sudah sepi pembeli,” keluhnya saat ditemui disela-sela kesibukannya berjualan, Kamis (21/5).

Menurutnya sebelum pemberitaan beredar, dirinya bisa meraup pendapatan lebih dari Rp 200.000 per harinya. Namun keadaan berbanding terbalik setelah berita zona merah Jempur beredar. Diakui Yuli, paling banyak dirinya hanya bisa membawa pulang Rp 50.000 per harinya. Disamping itu, modal yang dikeluarkan untuk membeli ikan kepada nelayan juga lebih  besar.

“Berita itu benar-benar berdampak. Bayangkan kami juga keluar modal untuk beli ikan sudah mahal baku tawar setengah mati, tapi kita jualannya juga sepi, kadang tidak laku sampai kita harus bawa pulang juga. Hari ini saja saya duduk dari jam 5 subuh baru kakak saja yang datang beli. Saya belum layani pembeli satupun, sebelum kakak datang,” bebernya.

Yuli pun membantah jika Jempur dikatakan sebagai zona merah. Dirinya memang membenarkan bahwa salah satu pasien positif memang berdagang di Jempur. Namun saat ini yang bersangkutan telah dijemput untuk diisolasi. Sehingga menurutnya Pasar Jempur tak lagi perlu dikarantina.

“Jembatan Puri ini bukan tempat Corona, daerahnya beda. Pasien yang positif sudah tidak ada lagi disini, lagian rumahnya jauh di sana, bukan disini. Jadi kalau bapak wali kota rencana mau tutup Jembatan Puri ini, kami tidak ada yang setuju karena ini punya tempat makan itu di sini sudah,” tegasnya.

Terkait sebagian besar masyarakat kompleks Jempur yang menolak untuk di rapid test, Yuli pun turut memberikan komentarnya. Dikatakannya bahwa warga memang menolak karena sudah terlebih dahulu merasakan ketakutan dalam dirinya. Selain itu, beberapa warga juga mempertimbangkan jika hasil rapid test keluar dan yang bersangkutan dinyatakan positif, maka tentu saja mereka akan dikarantina dan tidak lagi bisa berjualan.

“Jadi kita ini sudah takut sebenarnya, jadi mau tes juga rasa lain-lain. Apalgi nanti kalau tes baru hasil positif, kita lebih stress, tidak ada keluarga yang datang lihat. Kita harus diisolasi, tidak bekerja, lalu siapa yang cari makan untuk anak-anak,” ungkapnya. (ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed