oleh

‘Salat Ied di Rumah Saja’

SORONG – Menindaklanjuti edaran Gubernur Papua Barat terkait pelarangan penyelenggaraan salat Idul Fitri di lapangan dan masjid di beberapa daerah yang masuk zona merah penyebaran virus corona, salah satunya Kota Sorong, Wali Kota Sorong Drs.Ec. Lambert Jitmau,MM mengatakan penyelenggaraan salat Ied di Kota Sorong hanya diperbolehkan di rumah masing-masing.

Wali Kota mengatakan, pelarangan tersebut sudah sangat jelas berdasarkan surat edaran dari pemerintah pusat, Kementerian Agama maupun MUI pusat hingga daerah. “Masyarakat jangan membuat aturan baru, mari saling menghargai dan menghormati surat edaran dari petinggi negara. Jangan membuat sesuatu yang bertentangan dengan aturan. Kalau masih ada yang melaksanakan salat Ied di masjid (Mengumpulkan banyak jemaah,red) berarti itu kurang adanya toleransi umat beragama,” kata Lambert Jitmau kepada wartawan, kemarin.

SE Gubernur Papua Barat tersebut dikeluarkan berdasarkan hasil rapat yang digelar antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua Barat bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Papua Barat, dengan para tokoh agama beberapa waktu lalu dan menyatakan bahwa kabupaten dan kota di Provinsi Papua Barat yang merupakan zona merah, tidak diizinkan melaksanakan salat Ied di lapangan maupun di masjid.

Dikatakannya, menghargai umat beragama yang lain sebab umat beragama lainnya menyelenggarakan ibadah di rumah karena khawatir penyebaran virus corona dan menghargai para petinggi negara, sebab pemimpin negara dan daerah adalah Wakil Tuhan di bumi. Wali Kota menyatakan akan melibatkan anggota gabungan TNI/Polri dan Satpol PP untuk memertibkan masyarakat bila ada yang nekat melanggar surat edaran tersebut. “Jadi, tim gabungan dari TNI/Polri serta Satpol PP yang akan bertindak, tidak ada yang kebal hukum dan tim ini bekerja sesuai tupoksi masing-masing,” tandasnya..

Terkait takbiran, Lambert mengatakan juga tidak akan dilaksanakan dan semua harus berdasarkan aturan dan instruksi. Yang paling utama, jangan melakukan kegiatan yang mengumpulkan orang banyak. Lambert percaya bahwasannya ibadah di rumah walaupun hanya dilakukan 1 atau 2 orang saja maka Tuhan akan hadir. “Kita takut penyebaran virus,  sekarang sudah 30 orang positive Covid-19 dan terus meningkat. Jangan ingin tambah jumlah pasien, kalau bisa kurangi dengan membatasi diri, memperhatikan edaran yang sudah ada itu,” pungkasnya.

Sementara itu, sidang isbat awal Syawal 1441 Hijriah yang digelar Kementerian Agama di Jakarta, Jumat (22/5) petang menetapkan Idul Fitri jatuh pada Minggu (24/5). “Semua melaporkan tidak melihat hilal (bulan baru). Oleh karena, metode hisab posisi hilal di bawah ufuk dan laporan perukyat tidak melihat hilal maka sidang isbat secara bulat menetapkan 1 Syawal 1441 Hijriah jatuh pada Minggu, 24 Mei 2020,” kata Menteri Agama Fachrul Razi dalam telekonferensi persnya di Jakarta, Jumat.

Pakar astronomi dari Tim Falakiyah Kementerian Agama Cecep Nurwendaya mengatakan Kemenag menyebar perukyat di 80 titik di seluruh Indonesia. Menurut Cecep, penetapan awal bulan hijriyah didasarkan pada hisab dan rukyat. Proses hisab sudah ada dan dilakukan oleh hampir semua ormas Islam. “Secara hisab, awal Syawal 1441H jatuh pada hari Minggu. Ini sifatnya informastif, konfirmasinya menunggu hasil rukyat dan keputusan sidang isbat,” katanya. (juh/**/ant)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed