oleh

Tertahan di Pos Perbatasan Maybrat

-Metro-186 views

SORONG- Bencana Nasional virus Corona (Covid-19) yang sampai saat ini mengancam setiap nyawa membuat Pemerintah Daerah menerapkan kebijakan Pembatasan akses masuk dan keluar di pos perbatasan Kampung Sehu Distrik Ayamaru Barat Kabupaten Maybrat. akibatnya pembatasan waktu dan hari tersebut membuat banyak penumpang terlanjur tertahan di pos perbatasan terpaksa bermalam selama 19 jam dari sore hari sampai besok pagi saat palang dibuka. Seperti halnya yang dialami keluarga Way, Asmuruf dan Kambu.

Setelah mendengar kabar duka bahwa ada salah satu orang tua yang juga tokoh adat meninggal di salah satu kampung di Distrik Aitinyo Kabupaten Maybrat, keluarga besar Way, Asmuruf, Antoh dan keluarga yang terkait di dalamnya yang berada di wilayah Sorong Raya memutuskan untuk menyewa (carter) beberapa kendaraan Trans Maybrat untuk melihat langsung orang tua terkasih mereka sekaligus memberi penghormatan terakhir.

Namun sayangnya di luar dugaan, perjalanan tidak semulus yang mereka harapkan. Betapa tidak sampainnya di pos perbatasan Maybrat Sehu tepat pukul 15.10 WIT, artinya mereka terlambat 10 menit dari ketentuan waktu yang diatur Pemerintah Daerah 15.00 WIT. Secara kemanusian mereka pun berupaya melakukan pendekatan memberi penjelasan kepada petugas jaga yaang terdiri dari Satpol PP, Gabungan TNI-Polri dan tokoh masyarakat setempat agar bisa memahami kondisi mereka karena tujuan mereka adalah untuk melihat keluarga mereka yang meninggal karena rencana besok paginya ibadah pelepasan dan pemakaman.

Salah satu ibu rumah Tangga Yulianti menceritakan bahwa, upaya mereka untuk berupaya memohon pengertian dan belas kasihanpun dari petugas berulang kalipun nampaknya sia sia, karena petugas jaga tetap bersikukuh tidak mau membuka palang pembatas. “ kita hanya terlambat 10 menit saja, kami su mohon-mohon tapi tidak bisa juga, terpaksa kami mengalah” tutur Yulianti. Tidak hanya keluarga mereka yang menumpang satu mobil, tetapi kendaraan lain yang punya kepentingan lain di Kabupaten Maybrat juga mengalami nasib yang sama.

Penjelasan lainnya bahwa, mereka tidak bisa membuka palang karena para petugas medis yang melakukan pemeriksaan suhu tubuh dan verifikasi identitas telah selesai bertugas dan sudah pulang pukul 03.00 WIT, sehingga tidak ada alasan untuk mereka bisa membuka palang. Pertimbangan lainnya, bahwa mereka tidak berani membuka palang karena jika niat mereka diketahui bupati, mereka (Satpol) PP akan dipecat atau diberikan sanksi.

Akibatnya mereka yang jumlahnya 6 orang keluarga dalam satu mobil tersebut tertahan di pos perbatasan dari pukul 15.10 WIT sampai besoknya pukul 10.00 WIT pergantian personel jaga baru lapangan dibuka. Bertahan selama 19 jam di pos perbatasan mereka mengaku cukup menderita, karena selain susah tidur, juga mereka terpaksa mengalami kelaparan di tengah malam karena tidak ada toko maupun kios yang tersedia daerah sekitar.

Beruntung disaat mereka membutuhkan makanan, ada seorang ibu yang datang membawa pisang yang baru ditebangnya lalu diberikan kepada mereka lalu mereka bakar dan makan demi mengalas perut supaya bisa bertahan tidur. Akhirnya pagipun tiba dan mereka yang pertama mendapat pelayanan pemeriksaaan medis dari petugas dan melakukan perjalanan mereka ke kampung tujuan walaupun dengan hati yang sangat menjengkelkan. 

Sayangnya, setelah sampai di rumah duka, mereka tidak sempat melihat langsung jenazah almarhum karena sudah dilakukan ibadah dan pemakaman. Walau demikian mereka tetap datang ke tempat pemakaman umum untuk memberi penghormatan terakhir.(ris)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed