oleh

Ramadhan Ditengah Wabah Corona

-Nasional-1.602 views

Saat ini Ummat Islam telah berada di bulan Sya’ban dalam perhitungan kalender Islam, gerbang menuju sebuah wahana Ibadah tempat bagi ummat Islam untuk menempa diri, yaitu bulan Suci Ramadhan.
Wahana Ramadhan kian dekat dengan kita, bahkan tinggal menghitung hari, tapi musibah demi musibah belum juga beranjak dari kita. Semakin hari semakin banyak orang yang terinfeksi virus Corona.
Dari waktu ke waktu semakin banyak orang yang meninggal karena terpapar virus ini.
Sebelum kita sampai pada wahana Ramadhan, marilah kita menjadikan musibah mewabahnya virus Corona ini sebagai pelajaran bagi kita semua. Kita yakin bahwa dalam setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Setiap kejadian pasti ada maknanya. Setiap musibah pasti ada pelajaran yang bisa dipetik darinya.
Sebagaimana diberitakan bahwa virus corona ini bisa menyerang siapa pun. Tua, muda, kaya, miskin, laki-laki, perempuan, muslim, non muslim. Siapa pun tanpa terkecuali.Hal ini mengingatkan kita akan apa yang ditanyakan Zainab binti Jahsy radliyallahu ‘anhu kepada Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Maknanya: “Apakah kita akan binasa, padahal di antara kita masih ada orang-orang yang shalih?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Iya, jika dosa dan maksiat sudah banyak dilakukan” (HR Muslim).
Melalui wabah virus Corona, kita diingatkan bahwa dosa, maksiat, dan kemungkaran telah mewabah di lingkungan kita, di masyarakat kita. Melalui virus ini, kita juga ditegur bahwa banyak di antara kita yang acuh tak acuh terhadap kemungkaran yang menjalar di tengah-tengah kita.
Kemungkaran,dosa dan maksiat itulah yang mengundang azab Allah kepada kita semua.
Kita diingatkan untuk lebih giat lagi dalam beramar makruf dan bernahi mungkar. virus corona, juga mengingatkan agar semakin mendekatkan diri kita kepada Allah dengan ibadah, dzikir dan lain sebagainya.
Ibadah akan menenteramkan jiwa dan menenangkan hati. Ketenteraman dan ketenangan hati inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat daya tahan tubuh kita semakin kuat dan sistem imun dalam tubuh kita bekerja dengan baik.
Seseorang yang daya tahan tubuhnya kuat, meskipun terinveksi virus corona—kata para ahli—maka ia bisa sembuh dengan sendirinya tanpa harus dirawat di rumah sakit. Kita diingatkan untuk memperbanyak istighfar dan bertobat dari semua dosa yang pernah kita lakukan.
Karena musibah yang menimpa banyak orang seperti merebaknya virus corona ini, yang shalih dan yang fasiq kena, tiada lain dikarenakan banyaknya kemaksiatan yang menyebar di tengah-tengah masyarakat kita. Melalui virus corona, kita juga diingatkan bahwa segala sesuatu tidak terlepas dari takdir Allah.. Segala ikhtiar sudah dilakukan. Semua usaha telah dikerahkan. Seluruh upaya, baik lahir maupun batin, sudah dikerjakan semaksimal dan seoptimal mungkin. Namun sampai detik ini tiada siapa pun yang dapat menghentikan penyebaran virus corona.
Hal ini membuktikan bahwa apa pun yang diupayakan manusia, jika tidak dikehendaki dan ditakdirkan Allah, pasti tidak akan terjadi. Karena apa pun yang dikehendaki dan ditakdirkan Allah pasti terjadi, dan apa pun yang tidak dikehendaki dan ditakdirkan Allah pasti tidak akan terjadi.
Akan tetapi keyakinan dan keimanan kita kepada takdir tidak boleh menghentikan ikhtiar kita. Berikhtiar tidaklah menggoyahkan keimanan kita kepada takdir. Karena kita tidak mengetahui apa yang Allah takdirkan pada diri kita kecuali setelah terjadinya.
Sebelum sesuatu terjadi, maka tugas kita sebagai manusia adalah melakukan sebab dengan harapan kita akan menghasilkan akibat. Jika kita sudah melakukan sebab tetapi pada akhirnya tidak terjadi akibat, maka pada saat itulah kita baru mengetahui bahwa Allah tidak menakdirkan apa yang kita inginkan dan upayakan.
Tugas kita selanjutnya apa?. Terus berikhtiar dan berusaha, siapa tahu di waktu yang akan datang Allah mewujudkan dan menakdirkan apa yang kita inginkan.
Melalui virus Corona, kita diingatkan untuk tawakal kepada Allah. Tawakal adalah menyerahkan hasil akhir ikhtiar kita kepada Allah. Karena kita hanya bisa berusaha, tapi Allah-lah yang menentukan segalanya.
Melakukan tindakan-tindakan pencegahan supaya kita terhindar dari virus Corona tidaklah bertentangan dengan tawakal kepada Allah.
Sebagai makhluk yang lemah yang memiliki banyak keterbatasan, tidak selayaknya kita menyombongkan diri.
Hanya oleh makhluk yang sangat kecil saja, banyak orang dibuat tak berdaya, jatuh sakit dan bahkan meninggal dunia. Hanya Allah yang Mahakuasa dan tidak terkalahkan.
Sedangkan kita adalah makhluk-makhluk lemah yang senantiasa membutuhkan Allah dalam setiap tarikan nafas kita. Kita adalah makhluk yg lemah, Allah jualah tempat bersandar dan berharap.
Semoga dengan datangnya Bulan Suci Ramadhan dan Taubat kita menjadi obat penawar atau vaksin untuk virus Corona, sehingga kita dapat melaksanakan aktivitas ibadah dengan aman dan penuh kekhusuan, Allahu a’lam bishowwab.(***)

  • Penulis merupakan Sekretaris MUI Kota Sorong.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed