oleh

19 OAP Ikuti Workshop Eco Nusa

-Metro-176 views

SORONG – Bertempat di Ballroom Batanta Swissbel Hotel Sorong, Senin, (17/2) sebanyak 19 orang pengelola ekowisata berkelanjutan dari 9 Kabupaten di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat mengikuti kegiatan workshop bersama Yayasan EcoNusa. Dalam workshop ini para peserta diajak untuk saling berkomunikasi dan berbagi informasi berkaitan dengan pengelolaan wisata alam yang berdasarkan kearifan lokal atau local wisdom.

 Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari (17-18 Februari) ini, dibuka oleh Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat, Drs. Ruland Sarwom, M.Si, sebagai perwakilan Pemerintah Provinsi Papua Barat. Dalam sambutannya, Ruland Sarwom menyinggung mengenai UU No.10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan nasional RIPARNAS, dimana ada 4 Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) di Papua dan 2 DPN yang ada di Papua Barat.

 Direktur Program Yayasan EcoNusa, Muhammad Farid mengaku senang melihat masyarakat sejahtera dengan mengelola sumber daya alamnya sendiri. Dikatakan Farid, program ekowisata ini merupakan salah satu bentuk ketangguhan masyarakat (community resilence) yang secara tidak disadari ternyata mampu mendukung upaya-upaya untuk melindungi ekosistem hutan dan ekosistem laut dalam skala yang luas.

 “Kita sengaja mengajak dan memberdayakan masyarakat lokal, karena merekalah yang paling paham kondisi di lapangan. Mereka yang paling tahu potensi alamnya, budayanya, makanan dan kerajinan tangannya,” tutur Farid kepada Radar Sorong.

 Menurut Farid, hal penting yang membuat pihaknya harus berkoordinasi dengan pelaku pariwisata yang merupakan masyarakat lokal karena menjaga laut dan hutan adalah misi utama Yayasan EcoNusa. “Rupanya kegiatan ekowisata yang dilakukan masyarakat Papua juga  dengan menjada hutan dan laut dengan local wisdom yang tumbuh disekitar mereka,” sambungnya.

 Farid khawatir, setelah sekian banyak luas hutan di pulau-pulau lain yang akhirnya disulap menjadi lahan sawit, jangan sampai kemudian selanjutnya yang bakal dijadikan lahan sawit adalah Papua. “Jangan sampai setelah hutan Kalimantan dan Sulawesi berubah jadi lahan sawit terus malah menuju ke sini nih. Sedangkan dalam kegiatan masyarakat berekowisata ini juga membutuhkan lahan yang luas,” fikirnya. 

 Untuk itu, perlu diterapkannya ekowisata dengan mendasar kepada kearifan lokal ini sangat perlu. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar bagaimana pariwisata ini bisa bersifat sustainable dan berkesinambungan. (ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed