oleh

Raih Omzet Rp 300 Ribu – Rp 500 Ribu dari Kelapa Muda

-Ekonomi-53 views

SORONG – Kelapa muda merupakan salah satu dari sekian banyak yang dapat menyegarkan tubuh dari kondisi dehidrasi. Pedagang kelapa muda dapat ditemukan di pinggir jalan menuju reklamasi Tembok Berlin, Kota Sorong.

Mama Eindy, salah satu pedagang kelapa muda, yang ditemui Radar Sorong, (30/1) mengatakan, dirinya membawa barang dagangannya dari Tanjung Ampu, Pulau Sop, jaraknya tak jauh dari Pulau Doom. Dirinya berdagang sudah sejak beberapa tahun yang lalu, sebelum pembangunan reklamasi.

“Dulu sebelum reklamasi, jonson bisa langsung antar kita sampai di pinggir pantai sini. Tapi karena sekarang pantai sudah ditimbun jadi kelapa ini mereka hanya bisa antar batas sampai di Halte Doom saja,” terang Mama Eindy.

Menurutnya, ini menjadi juga menjadi kendala bagi dirinya dan teman-teman pedagang yang lain. Karena pedagang kelapa muda yang berjualan di sana harus mengeluarkan biaya transport lebih besar. “Biasa saya angkat kelapa dari seberang pakai jonson sampai di Halte Doom, biayanya Rp 200 ribu. Nanti dari Halte Doom baru sambung lagi pakai taksi kuning untuk bawa sampai di tempat jualan sini, bayar lagi Rp 50 ribu,” sambungnya.

Selain biaya transport, Mama Eindy dan pedagang lain juga masih harus membayar uang biaya operasional lain untuk mobil yang datang mengangkut sampah kulit kelapa. Biayanya Rp 10 ribu per hari, sehingga jika ditotalkan dalam 3 hari, dirinya harus membayar sebesar Rp 30 ribu.

Mama Eindy biasanya membawa sebanyak 100 hingga 120 buah per hari, dan diseberangkan menuju Sorong. Sampai di Sorong, kelapa segar ini dijual seharga Rp 10 ribu per buahnya. Dalam sehari, Mama Eindy bisa mendapat penghasilan dari Rp 300 hingga Rp 500 ribu.

Untuk keuntungan bersih yang diterima Mama Eindy, dirinya tak terlalu khawatir. “Saya juga tidak tau keuntungan bersih ini berapa. Yang penting ada saja uang untuk makan. Kalau ada sisa ya pakai untuk anak pergi sekolah,” tuturnya.

“Ini juga kelapa saya ambil sendiri dari kebun, karena saya ada tanam kelapa juga di sana. Kalau kelapa tidak habis dalam satu hari kan bisa simpan, karena barang ini bisa tahan maksimal sampai 3 hari. Ramainya biasa pas di hari Sabtu,” jelas Mama Eindy.

Sistem penjualan yang digunakan pedagang kelapa muda di sini adalah secara bergantian dengan pedagang dari pulau lain, atau dari Tanjung Kasuari. Mama Eindy hanya berjualan pada hari Kamis-Jumat saja. Dirinya berjualan dari pukul pagi hingga sore, bahkan malam hari. “Kadang malam baru kami pulang. Biasa kalo malam, ombak lumayan besar, tapi tidak  apa-apa. Kita ini hidup di Pulau jadi sudah terbiasa begitu. Asal semangat kerja, Tuhan jaga kita saja, dan bisa berkati kami punya pekerjaan,” tandasnya. (ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed