oleh

Keluarga Korban Duga Pembunuhan Berencana

SORONG-Didampingi tiga kuasa hukumnya, keluarga korban pembunuhan Lionald M di Kompleks Navigasi pada Jumat (24/1), menggelar jumpa pers, Rabu (29/1). Keluarga korban menuntut pihak kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) ulang. Hal ini dirasa perlu dilakukan karena pihak keluarga merasa banyak kejanggalan yang terjadi dalam pengungkapan kasus ini.

Fernando Ginuny,SH, salah satu kuara hukum keluarga korban mengatakan, dari beberapa rekaman CCTV di TKP, terlihat ada sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari lokasi korban dieksekusi. Mobil tersebut terlihat parkir dengan menyalakan sorot lampu jarak jauh. Menurut keterangan RW setempat, diduga saat korban dieksekusi, terdengan suara samar-samar yang meneriakkan ‘bunuh dia, bunuh dia’. Tak lama kemudian, Ketua RW mendengar suara menutup pintu mobil yang kemudian melaju meninggalkan TKP. “Itu sudah bisa jadi bukti dasar, langkah pengembangannya tinggal pihak kepolisian memanggil para saksi untuk dimintai keterangan, karena kami rasa bukti sudah cukup,” kata Fenando Ginuny.

Keluarga juga mengharapkan peningkatan status perempuan berinisial AN dari saksi menjadi tersangka. “Kami minta bukan hanya 4 pelaku yang diproses, tetapi juga perempuan yang diancam. Kami perlu tahu apakah perempuan ini hanya dijadikan perantara penyampaian mulut kepada pelaku, atau si perempuan ini juga berada di TKP saat korban dieksekusi. Perempuan ini juga perlu diperiksa terus, karena terjadinya pembunuhan ini bermula dari laporannya,” tutur Leonardo Ijie,SH, kuasa hukum pihak keluarga korban.

Ditakutkan, ada aktor yang memang bermain, apalagi ada beberapa benda yang seharusnya bisa dijadikan barang bukti untuk memperkuat bukti dalam pengungkapan kasus ini, namun benda-benda ini masih belum diketahui keberadaannya. “Kalau AN mengaku dikejar-kejar atau ditodong dengan pisau oleh korban, lalu mana pisaunya? Kemudian juga HP korban sampai sekarang tidak ditemukan. Padahal seharusnya HP korban bisa jadi BB terkuat, supaya kita bisa tahu apakah ada seseorang yang mengarahkan korban untuk menuju TKP atau seperti apa,” sambung Leonardo.

Keluarga juga membantah pemberitaan yang beredar bahwa korban dinyatakan dalam keadaan mabuk atau memiliki ganguan jiwa saat kejadian. Sebab menurut keterangan dari teman-teman korban beberapa saat sebelum korban dihabisi nyawanya, korban memang dalam kondisi baik-baik saja dan tidak dalam keadaan mabuk. “Kami tidak meminta pembenaran, kami hanya meminta keadilan dalam kasus ini. Terkait pemberitaan yang sudah meluas, kami merasa bahwa pernyataan tersebut sangat menyudutkan klien kami, seolah-olah klien kami sudah melakukan kesalahan besar,” kata Moh. Iqbal Muhiddin,SH.

Ditambahkannya, pelaku juga kenal dengan korban. Namun masih sangat menjadi pertanyaan besar di benak keluarga, jika pelaku mengenal korban lalu mengapa sampai tega menghabisi nyawanya. “Dari hal ini kami mencurigai bahwa kemungkinan adanya pembunuhan berencana hingga  mengakibatkan klien kami meninggal,” tandas Iqbal.

Terkait kasus ini, Ketua Umum Dewan Adat Malamoi dan Ketua Lintas Kepala Suku Asli Papua, Paulus Safisa meminta kerjasama dari berbagai macam stakeholder untuk membatasi penjualan  . Menurutnya, miras dirasa sebagai pemicu tingginya kriminalitas di Kota Sorong belakangan ini. (ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed