oleh

Bijak Menggunakan Antibiotik

-Hiburan-3.610 views

Oleh: dr. Christina Tanifan, M.Biomed*

Penggunaan antibiotik terutama di daerah Kota dan Kabupaten Sorong saat ini cukup memprihatinkan sehingga menarik untuk dibahas. Pemerintah sendiri telah menuangkan pengendalian penggunaan antibiotik ini dalam bentuk Permenkes RI No.8 Tahun 2015. Beberapa waktu ini pun untuk mendapatkan antibiotic masyarakat sudah harus menggunakan resep dokter. Tetapi masih banyak masyarakat yang belum paham betul, mengapa harus sesusah itu mendapatkan antibiotik.

Antibiotik adalah golongan obat yang paling banyak digunakan. Antibiotik merupakan bahan kimiawi yang dihasilkan oleh organism seperti bakteri dan jamur  yang dapat mengganggu mikro organisme lain. Biasanya dapat membunuh bakteri (bakterisidal) atau menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik). Contoh antibiotik yang paling sering dipakai di masyarakat misalnya amoxicillin, ampicilin, tetrasiklin, cefadroxil, dan masih banyak lagi.

Zaman dahulu, butuh waktu beberapa tahun lamanya dari masa penemuan senyawa yang bersifat bakterisidal (yang bisa membunuh bakteri) sampai berbentuk antibiotik yang komersial). Pada tahun 1906, Paul Ehrlich menemukan senyawa arsenik (senyawa 606) yang efektif terhadap infeksi malaria. Namun penggunaan senyawa tersebut sebagai antibiotik (Salvarsan) untuk terapi sypilis, barudi perkenalkan secara komersial pada tahun 1910. Berikutnya, tahun 1928 Alexander  Fleming menemukan Penisilin yang membutuhkan banyak waktu dan upaya untuk memurnikan penisilin hingga dapat digunakan dalam pengobatan. Artinya, untuk mendapatkan atau menemukan antibiotik yang baru butuh waktu lama  dan juga banyak upaya yang ditempuh.

Ketika sakit, baik manusia maupun hewan memerlukan pengobatan, namun tidak semua penyakit perlu diobati dengan antibiotik. Pemakaian antibiotik harus secara rasional. Rasionalitas pemakaian antibiotik meliputi indikasi penyakit yang tepat untuk diberikan antibiotik (tepat indikasi), antibiotik diberikan untuk penderita yang benar membutuhkan (tepat penderita), pemberiaan antibiotik sesuai dengan dosis berdasarkan usia, berat badan, waktu minum obat (tepat dosis) dan waspada efek samping obat. Pemakaian antibiotik yang tidak rasional, tidak bijak dan tidak dibawah pengawasan tenaga kesehatan dan tidak menggunakan resep dokter, akan menyebabkan munculnya banyak efek samping dan juga resistensi bakteri terhadap antibiotik itu sendiri.

Salah satu penyebab meningkatnya kejadian resistensi adalah penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Beberapa faktor yang mendukung terjadinya resistensi yaitu penggunaan yang tidak tepat, misalnya waktu yang terlalu singkat, dosis yang terlalu rendah; pengetahuan pasien yang kurang tentang penggunaan antibiotik, kecenderungan pasien dengan kemampuan finansial yang baik akan meminta terapi antibiotik yang paling baru dan mahal meskipun tidak diperlukan. Bahkan pasien membeli antibiotik sendiri tanpa peresepan dari dokter (self medication), sedangkan pasien dengan kemampuan finansial yang rendah seringkali tidak mampu menuntaskan regimen terapi sehingga timbul resistensi.

Untuk pemberian antibiotik pun harus memperhatikan apakah antibiotik memang diperlukan. Jika memang diperlukan, apakah pilihan antibiotik yang paling rasional dan apakah pemberian antibiotik tersebut akan efektif. Perlu diketahui bahwa antibiotik hanya untuk infeksi bacterial dan bukan untuk infeksi virus. Contoh penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri misalnya tuberkulosis (TBC), pneumonia, dan antrax. Sedangkan contoh penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus adalah flu, cacar air dan HIV. Selain itu, tidak semua demam disebabkan oleh infeksi bakterial.

Upaya mencegah terjadinya resistensi terhadap antibiotik yaitu : (1) mendorong penggunaan antibiotik secara rasional (hanya diberikan untuk indikasi yang jelas); (2) mengurangi penggunaan yang tidak perlu, misalnya untuk profilaksis (pencegahan), maupun terapi; (3) memilih antibiotik yang tepat, memberikan dosis yang sesuai, memperhatikan juga frekuensi dan lama pemberian antibiotik untuk meningkatkan efektifitas antibiotik; (4) edukasi dan training pasien. Pesan akan diterima dengan baik jika disampaikan oleh pemimpin lokal atau orang yang dianggap berpengaruh. Pesan dapat disampaikan melalui televisi, radio, koran. Perlu disebarluaskan bahwa tidak semua jenis penyakit dapat disembuhka dengan pemberian antibiotik. Jika perlu, harus sesuai dengan instruksi dokter baik dosis maupun rentang terapinya; (5) perlu sosialisasi generasi muda sejak dini terhadap bahaya resistensi antibiotik melalui berbagai media.***

*Penulis adalah PNS, Staf Dosen / Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Papua

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed