oleh

20 Tersangka Makar Ditahan

JAYAPURA-Setelah  24 jam melakukan pemeriksaan 34 orang yang diamankan pada Sabtu (30/11) malam karena membawa senjata tajam, Polres Jayapura akhirnya menetapkan 20 orang sebagai tersangka makar, sementara 14 orang lainnya dipulangkan karena tidak terbukti memenuhi unsur pidana. “Dari hasil pemeriksaan terhadap para pelaku dan bukti yang kami dapatkan, maka kami menetapkan 20 orang sebagai tersangka kasus makar. Sementara 14 lainnya dipulangkan karena kami tidak terbukti memenuhi unsur pidana,” kata Kapolres Jayapura, AKBP Victor Dean Mackbon saat press conference di Mapolres Jayapura, Senin (2/12).

Dikatakannya, 20 orang ini ditetapkan tersangka karena merupakan anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang sering beroperasi di Distrik Demta Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Sarmi. “Dari tangan para tersangka, kita mengamankan seragam berlambang Organisasi Papua Merdeka, kartu keanggotaan aktif sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan sejumlah senjata tajam yang dibawa oleh para tersangka,” jelasnya.

Dari hasil penyelidikan lanjut Victor Mackbon, diketahui para tersangka menuju Kota Jayapura untuk melakukan upacara HUT OPM 1 Desember di Lapangan Trikora Abepura. Mereka ke Jayapura atas suruhan orang, dan masih didalami siapa yang menyuruh mereka untuk datang ke Jayapura. “Bahkan dari keterangan mereka juga bahwa sebelum datang, mereka sudah melakukan latihan perang dan bila terjadi sesuatu dalam upacara 1 Desember, mereka akan membela diri menggunakan senjata tajam yang dibawa,”  jelasnya.

Kapolres menambahkan, saat ini Polres Jayapura sementara berkoordinasi dengan pemerintah Distrik Demta dan Kabupaten Sarmi untuk menjemput 14 orang yang dipulangkan. “Kita minta Kepala Distrik Demta dan Kapolres Sarmi untuk menjemput 14 orang ini, kemudan dibina supaya jangan sampai mereka menyimpang untuk melakukan aksi seperti ini lagi. Selain itu, 14 orang ini akan kami jadikan duta kamtibmas sehingga mereka bisa menyampaikan pesan-pesan moral kepada masyarakat lainnya sehingga tidak melakukan hal yang sama lagi di kemudian hari,” pungkasnya.

Sementara itu, 4 orang  yang diamankan di Gereja Gembala Baik Abepura,  tiga diantaranya adalah mahasiswa dan 1 pelajar SMA, telah dilakukan introgasi terhadap  empat orang tersebut dengan temuan  4  lembar bendera motif bintang kejora, 2 ukuran kecil dan 2  besar. Kesimpulan dari hasil interogasi polisi, mereka mendapatkan selebaran yang dikeluarkan oleh ULMWP untuk undangan ibadah di lapangan Trikora 1 Desember,  jam 11 siang sesuai isi selebaran untuk memperingati 58 tahun West Papua.

Setelah menerima selebaran tersebut, pada 30 November di Perumnas III, mereka kemudian menyiapkan perlengkapan, kain dan mengecat sesuai motif Bintang Kejora. Pada Minggu (1/12), mereka menggunakan angkutan umum menuju Lapangan Trikora, namun melihat tidak ada kegiatan, maka melanjutkan perjalanan untuk mengikuti ibadah mengunakan koteka. “Empat orang ini merupakan simpatisan ULMWP yang mana akan menghadiri kegiatan peringatan  58 tahun West Papua. Untuk kajian pidana makar, hasil intrograsi terhadap mereka, dinyatakan belum memenuhi unsur  pidana makar sebagamana dalam KUHP,  sehingga pukul mereka dipulangkan ke tempat  tinggalnya masing-masing,” jelas Kapolres Jayapura Kota, AKBP Gustav Urbinas di Mapolres Jayapura Kota, Senin (2/12).

Dikatakan, status ketiganya hanya sebagai saksi dalam tahap penyelidikan. Mengingat proses  interogasi sudah selesai, sehingga keempat warga ini dipulangkan. “Untuk pemulangan mereka biasa saja, kita tidak membuat pernyataan , karna nanti apabila ada kerperluan lagi dalam penyelidikan lanjut, tentunya kita akan melayangkan undangan klarifikasi lagi terhadap mereka, dan ini kaitannya dalam undangan yang sudah tersebar akan menjadi penyelidikan siapa-siapa yang melakukannya,” jelasnya.

Pihaknya lanjut Gustav Urbinas, juga melakukan klarifikasi terhadap dua pastor gereja Gembala Baik, dan  seorang pengurus Paroki yang  secara umum menjelaskan bahwa mereka bukan jemaat tetap. “Mereka sering beribadah di situ tapi bukan jemaat tetap. Pihak gereja tidak pernah merencanakan atau  mengijinkan mereka untuk melakukan aksi tersebut, dan diketahui setelah ibadah sementara berjalan karena mereka duduk di belakang,” terang Kapolres Jayapura Kota. (al)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed