oleh
-Ekonomi-320 views

Besarnya peluang usaha laundry yang seperti tengah menjadi bagian dari kebutuhan kehidupan kini juga tampak seret akibat Covid-19.
Pasalnya, bisnis laundry yang biasanya ramai orderan dari para guru PNS dan anak sekolah kini agak surut sejak proses belajar mengajar secara tatap muka ditiadakan. Hal ini diakui oleh salah seorang pemilik usaha ­laundry, Siti Nur Alfia.
”Orderan turun karena banyak orang kantoran yang libur. Jadi mereka biasanya nyuci sendiri, karena punya lebih banyak waktu di rumah,” kata dia.
Usaha jasa laundry milik Siti awalnya direspon baik oleh banyak orang. Bagi pekerja kantoran atau orang-orang sibuk lainnya, jasa laundry sangat membantu karena siapapun pasti menginginkan pakaiannya selalu bersih.
Dibantu dua orang tenaga kerjanya, Siti bisa menggarap pekerjaan sebanyak 40 Kg pakaian setiap harinya.
Pelanggannya datang dari berbagai kalangan sebab ia juga memasarkan usahanya melalu sosial media.
Menawarkan jasa laundry cuci-setrika seharga Rp 15.000/kg untuk jenis express dengan waktu pengerjaan sehari. Kemudian Rp 8.000/kg untuk laundry reguler dengan waktu pengerjaan selama tiga hari. Sementara untuk konsumen yang hanya membutuhkan jasa setrika, cukup membayar Rp 5.000/ kg.
Bagi Siti, selain pandemi covid-19 yang kini menjadi kendala, cuaca ekstrem yang belakangan ini kerap terjadi juga salah satunya.
”Kalau hujan terus cucian tidak bisa langsung kering sehari. Jadi kita butuh waktu lebih lama lagi. Ini malah membuat pekerjaan kita menumpuk,” keluhnya. (ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed