oleh

Jalan Kaki 3 Km, Dihampiri Burung Taun-Taun

Menikmati Pesona Wisata Alam Lembah Malagufuk Kabupaten Sorong

Pesona alam Kabupaten Sorong tak ada habisnya. Selain pantai, pulau dan gua di Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, salah satu yang menjadi daya tarik wisatawan belakangan ini yakni  Wisata Alam Lembah Malagufuk. 

Namirah Hasmir, Sorong

WISATA Alam Lembah Malagufuk berada jauh di dalam hutan di Kampung Malagufuk Distrik Makbon Kabupaten Sorong. Lokasinya yang jauh menjadi tantangan tersendiri bagi pengunjung untuk melihat keindahan alam yang tersaji di dalamnya. Hendak melakukan peliputan acara adat di Kampung Malagufuk, Radar Sorong bersama-sama rekan media lainnya dan 1 orang dari Bagian Humas Setdakab Sorong, memulai perjalanan dari Kantor Bupati Sorong sekitar pukul 11.00 WIT.  

Menempuh perjalanan sekitar 45 Km dengan perkiraan waktu 1 jam 30 menit menggunakan kendaraan double cabin, kami tiba di mata jalan Kampung Malagufuk.

Selanjutnya, kami didampingi beberapa warga dan mulai berjalan kaki menyusuri hutan yang berjarak sekitar 3 Km, kurang lebih 1 jam 30 menit. Selama perjalanan, kondisi hutan begitu asri, pohon-pohon besar dengan beragam bentuk daun, akar pohon yang menjalar tak beraturan dan suara hewan bersahut-sahutan di dalam hutan.  “Itu suara burung,” kata salah satu warga yang berjalan di belakang kami. 

Kurang lebih 15 meter berjalan, terdapat aliran sungai yang harus dilewati. Menurut salah satu warga, itu sungai yang pertama, selanjutnya terdapat 5 sungai yang harus dilalui. Ada yang dilalui menggunakan jembatan kayu, adapula yang dilalui secara langsung yang mengharuskan kami harus membuka alas kaki untuk melewati sungai tersebut. 

Saat perjalanan menyusuri hutan, beberapa pohon yang diperkirakan berusia ratusan tahun ditunjukkan oleh warga, beberapa pohon besar juga terdapat tulisan “Biarkan aku berdiri” yang berada tepat di tengah jalan setapak. Setelah kurang lebih 1 jam 30 menit berjalan kaki, kami tiba di Kampung Malagufuk ditandai dengan gapura yang terbuat dari kayu dan ilalang bertuliskan “Ata Dewobok”. Kampung Malagufuk sangat asri, rumah warga yang terbuat dari kayu, dipagari halaman yang dipenuhi beragam bunga dan daun berbagai warna. 

Di dalam kampung, terdapat Sekolah Dasar (SD) Inpres 30 Kabupaten Sorong dengan 3 ruangan yang berisikan kursi dan meja seadanya serta perangkat belajar mengajar seperti papan tulis juga media huruf dan angka yang ditempel didinding kayu setiap ruang kelas.  Terdapat gereja dan dua rumah tamu yang disewakan bagi para pengunjung yang memutuskan untuk bermalam di Kampung Malagufuk. 

Sebelum meliput acara adat, kami bersama Asisten III Setda Kabupaten Sorong, Klaas Osok, S.Sos,MSi, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sorong M.L Malagam,S.Sos,MSi serta warga lainnya, bersantai sejenak untuk menghilangkan lelah.  Beberapa menit berselang, seekor burung taun-taun (Enggang) dari dalam hutan, terbang menghampiri kami, selanjutnya bertengger di atas atap kayu. Warna bulunya yang hitam, paruh yang besar, kelopak mata yang biru, menunjukkan keindahan burung taun-taun tersebut.  “Ini burung taun-taun, sudah biasa dengan kita disini, jadi tidak takut lagi,” kata salah satu warga. 

Sebagian dari kami lalu memutuskan untuk mengabadikan keberadaan burung taun-taun menggunakan kamera masing-masing. Tidak merasa terganggu, burung taun-taun masih tetap bertengger di pohon hingga kami memutuskan untuk kembali pulang.  Namun sebelum pulang, upacara adat atau acara timai telah lebih dulu dijalankan. Orang Tua Adat, beberapa warga, Asisten III dan Kepala Dinas Pariwisata ikut dalam upacara tersebut. Dimana, terdapat kain adat, pinang kering, rokok dan nasi yang digunakan dalam prosesi adat tersebut. 

Selama kurang lebih 30 menit prosesi adat dimulai dengan harapan leluhur di hutan dan Kampung Malagufuk memberikan ijin atas proses pengerjaan jalan setapak dan pembangunan honai untuk mendukung keberlangsungan wisata alam di Kampung Malagufuk. “Upacara adat sebagai tanda permisi kepada para leluhur untuk melancarkan pembangunan Wisata Alam Lembah Malagufuk ini,” terang Klaas Osok. 

Prosesi upacara adat dilakukan untuk 3 marga yakni marga Kalami Malagufuk, Kalami Gilek dan marga Malasamo. Diharapkan setelahnya, pengerjaan jalan setapak dan honai dapat segera dilakukan.  Menurut Malagam, pembangunan wisata alam tersebut, selain memberikan dampak positif kepada masyarakat setempat, juga berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sorong.  Pembangunan Rumah Singgah bersama dengan Tugu Selamat Datang, bernilai Rp 2,7 miliar yang bersumber dari Dana Otsus tahun 2019. “Dana untuk homestay, Rp 2,7 miliar dari dana Otsus, kalau jalan setapak itu ranahnya Dinas PU, kami kurang tahu,” ungkapnya. 

Absalom Kalami, salah satu local guide di Kampung Malagufuk mengatakan, di dalam hutan terdapat banyak spesies burung, termasuk spesies Burung Cendrawasih yang menurutnya terdapat 6 jenis.  Namun untuk menemukan keberadaan spesies burung tersebut, pengunjung kembali harus berjalan kaki sekitar 3 Km lagi kedalam hutan dari Kampung Malagufuk. Terkadang beberapa burung menghampiri pengunjung, seperti burung taun-taun.  “Kalau spesies burung banyak, untuk cendrawasih saja ada 6 spesies disini, belum yang lainnya,” katanya. 

Sejak dibuka tahun 2014, Absalom mengatakan sudah ada 370 pengunjung hingga September 2019. Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari turis domestic, tetapi juga luar negeri seperti dari Belanda.  “Tanggal 10 Oktober ini ada tamu lagi yang mau berkunjung,” ucapnya.  Kedatangan pengunjung di Kampung Malagufuk, selain untuk melihat keindahan alam, ada pula yang datang untuk melakukan penelitian terhadap spesies burung, kehidupan masyarakat adat dan beragam tujuan lainnya. 

Menyadari adanya peningkatan wisata di Kampung Malagufuk, masyarakat membangun 2 rumah tinggal bagi pengunjung. Biaya sewa semalam Rp 100 ribu per orang. Satu rumah tinggal diperuntukkan untuk pembangunan gereja. Sementara untuk konsumsi, para pengunjung diharapkan lebih dulu berbelanja di luar sebelum masuk ke kampung.  “Sebelum masuk ke kampung, kami akan lakukan briefing terlebih dulu di Kota Sorong, sekalian belanja makanan untuk nanti diolah sama masyarakat di kampung,” ucapnya. 

Dari briefing tersebut, local guide yang ada di Kampung Malagufuk bekerja sama dengan agen travel untuk berkomunikasi dengan pengunjung yang datang, apabila berasal dari luar negeri.  Keterbatasan dalam berkomunikasi dengan turis mancanegara, Absalom mengharapkan hendaknya dapat dilihat oleh pemerintah dengan peningkatan SDM, sehingga tidak menjadi kendala apabila pengunjung yang datang di Kampung Malagufuk berasal dari luar negeri. Dibukanya Kampung Malagufuk sebagai lokasi wisata alam, menjadi hal positif bagi Absalom dan pemuda lainnya di Kampung Malagufuk. Dengan begitu, ia bersama masyarakat di Kampung Malagufuk ikut tergerak untuk tetap menjaga kelestarian hutan Malagufuk. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed