oleh

Litbang Kompas, Mabuk Miras Jadi Masalah Utama

MANOKWARI-Litbang (Penelitian dan Pengembangan) Kompas merilis hasil riset atau survey tentang tingkat kepuasan masayrakat atas  kinerja Polda Papua Barat dan Polres jajaran. Salah satu kesimpulan dari Riset Litbang Kompas ini, masalah mabuk miras adalah yang paling dirasakan sebagai gangguan keamanan, termasuk dilakukan oleh oknum polisi.

Kesimpulan lainya, dari segi perilaku dan kepatuhan, warga sudah paham apa yang seharusnya, namun belum diikuti dengan perilaku dan kepatuhan yang sesuai. Meski separuh responden menilai sikap polisi sudah adil, ada sebagian responden yang menilai polisi masih belum bersikap adil. “Umumnya responden sudah menilai positif kinerja polisi, meski demikian kehadiran polisi belum terlalu dirasakan padahal sangat diharapkan,’’ ujar Satyo, peneliti Litbang Kompas dalam paparannya.

Pemaparan hasil Riset Litbang Kompas ini dihadiri Kapolda  Papua Barat Brigjen Pol Drs Herry Nahak, Wakapolda Kombes Pol Drs Tatang, Irwasda Kombes Pol Drs Achmad Marhaendara serta para pejabat utama.

Litang Kombas dalam kesimpulann juga menyampaikan, peran Babin Kamtibmas dan Senkom Mitra Polri belum terlalu dikenal, namun setelah diinformasikan apa tugas mayoritas responden merasa tertarik. “Polisi di Papua Barat harus memberi prioritas untuk mendekati orang muda. Minat terhadap pemberitaan mengenai kinerja polisi menunjukkan kepedulian masyarakat dan potensi kedekatan yang besar terhadap polisi,’’ ujar Satyo.

Survei dilaksanakan 11-19 Juli dengan metodologi wawancara tatap muka terhadap 270 responden. Riset dilakukan di 10 kabupaten/kota, wilayah Polres Kota Sorong, Polres Sorong Selatan (Kabupaten Sorong Selatan, Maybrat, Tambrauw), Polres Manokwari (Kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan, Pegunungan Arfak), Polres Telok Wondama, Polres Fak-Fak dan  Polres Kaimana.

Latar belakang dan tujuan Riset menggali penilaian masyarakat di Papua Barat terhadap kinerja Polda Papua Barat,  mengetahui persepsi publik (awareness), evaluasi kinerja Polda Papua Barat sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat dan mengukur kepuasan publik (satisfaction).

Risetl dilihat dalam beberapa aspek layanan yang dirasakan oleh masyarakat Papua Barat,rasa aman publik,  kepercayaan terhadap Polda, benchmarking aparat penegak hukum di masyarakat Papua, evaluasi kinerja  pelayanan Lalu Lintas, pelayanan Publik (SIM & STNK) dan  Penegakan Hukum Penanganan Kejahatan (Kriminalitas).

Sejumlah pertanyaan diajukan kepada para responden, di antaranya mengenai, apa tugas polisi 85,2 persen responden mengaku mengetahu tugas polisi, kepatuhan pengendara, sebagian besar tidak punya SIM dengan alasan malas urus dan tidak tahu di mana mengurus, kepatuhan atas kepemilikan STNK , sebagian besar 54,8 responden memiliki STNK.

Permasalahan sektoral wilayah survei (observasi kualitatif) mabuk/miras jadi masalah utama di semua area survey (Polres). Masalah miras tertinggi di Kota Sorong, Sorong Selatan, Tambrauw, Kaimana, Fakfak, Teluk Wondama, di Maybrat masalah utama tertinggi konflik warga diikuti miras. Masalah utama lainnya KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), narkoba, lem aibon.

Kepuasan rasa aman, mayoritas responden merasa puas dengan kondisi keamanan. Gangguan keamanan lebih disebabkan orang mabuk 16,3 persen, serta gangguan lainnya, narkoba, tindakan kekerasan, pemerkosaan,  narkoba, tindak kekerasan.

Kepuasan atau Imej terhadap polisi, Litbang Kompas menilai, mayoritas responden menilai figur polisi sudah baik dan ramah 75,2 persen. Ketika ditanya hal  yang tidak baik dilakukan polisi, responden menjabat mabuk 7persen, judi 1,2 persen dan pukul warga 0,7 persen.

Pertanyaan soal kehadiran Polisi, responden menilai keberadaan polisi patrol dan mengunjungi warga masih kurang dirasakan, tidak pernah 67.8, kadang-kadang 15,9 persen, sering 10,7 persen dan tidak tahu 5,6 persen.

“Kehadiran polisi untuk membuat acara bersama warga kurang terlihat, namun sesungguhnya diharapkan oleh warga. Kehadiran polisi menimbulkan rasa aman warga. Polisi masih menjadi tumpuan pengaduan warga, diikuti oleh tokoh dan ketua adat,” lanjut Saryo.

Litbang Kompas juga menanyakan keberdaan Bhabinkamtibman. Banyak responden belum mengenal Babinkamtibmas. Namun setelah dijelaskan peran Babinkamtibmas, mayoritas responden merasa perlu adanya Polisi Babin Kamtibmas.

Mengani sumber informasi responden terhadap pemberitaan terkait polisi, sebagian responden mengaku mengikuti pemberitaan di TV 51 persen, di koran 11,3  persen, media sosial 9,9 persen, berita online 9,4 persen, radio 7,2 persen.

Ditanya televise yang sering ditonton pemberitaan terkait polisi paling tinggi TVOne 28.5, Metro TV 16,3 persen. Sedankan koran yang sering dibaca paling tinggi Radar Sorong 7,8 persen, Cahaya Papua 5,2 persen, Kompas 4,1 persen, Media Papua 0,7 persen, Cenderawasih Pos 0,7 persen, Manokwari Pos 0,4 persn dan tidak tahu 25,6 persen.

Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Drs Herry Nahak mengatakan, hasil riset Litbang Kompas ini akan menjadi bahan evaluas bagi peningkatan kinerje ke depan. Polda sangat memperhatikan masalah utama di setiap kabupaten adalah soal miras, dan kekerasn dalam rumah tangga.

“Hasil survey ini semakin membuat jelas bahwa, pencegahan narkoba perlu, tetapi pemberantasan miras yang harus cepat dilakukan. Kita lihat sendiri penyakit masyarakat dan penyakit polisi juga miras. Masyarakat tidak suka melihat polisi mabuk miras. Ini menjadi bahan bagi kami untuk evaluasi,” pungkas Kapolda.(lm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed