oleh

Maikel Kareth Pahlawan Perdamaian Papua

Bincang Bincang dengan Keluarga Almarhum Maikel Kareth

Duka cita mendalam masih terekam di benak kedua orang tua, adik kakak, sanak saudara dan kerabat almarhum Maikel Kareth atas kepergiannya yang begitu tragis. Betapa tidak, dua hari sebelumnya, orang tua almarhum sempat menelpon menasehati bahwa kondisi Papua saat ini tidak aman, jadi jaga diri, jangan terpengaruh. Walaupun hanya tinggal nama dan kenangan, sanak keluarga menganggap sosok Maikel Kareth adalah Pahlawan Perdamaian sejati bagi masa depan tanah Papua.

Ruben Isir, Sorong

SETIBANYA  di Yukase Distrik Ayamaru Utara, jenazah Almarhum Maikel Kareth disambut Bupati Maybrat, Drs. Bernard Sagrim,MM bersama jajaran Muspida. Isak tangis tak terbendung, seakan tidak percaya peristiwa ini. Setelah beberapa jam berlalu, keluarga besar korban dan pemerintah daerah, melakukan pertemuan keluarga untuk membahas beberapa pernyataan penting untuk disampaikan ke seluruh pemangku kepentingan di republik ini. Dua diantaranya terkait sikap orang tua dan masyarakat adat Suku Maybrat, serta tuntutan hukum positif yang berlaku di negara ini.

Selaku yang ditokohkan, Amos Kareth kepada Radar Sorong menjelaskan bahwa sebelum ibadah pelepasan jenazah, keluarga besar Kareth melakukan pertemuan. Salah satu poin penting yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut adalah keluarga besar tidak menuntut denda adat kepada negara. “Dalam pertemuan keluarga, prinsipnya ada dua hal yang kami putuskan. Pertama, kami keluarga tidak menghendaki adanya pembayaran atau denda adat sebagaimana tradisi kami orang Maybrat, karena almarhum meninggal sebagai tebusan untuk tanah dan negeri ini,” kata Amos Kareth.

Keluarga menilai kepergian almarhum Maikel Kareth sebagai tebusan bagi masa depan tanah dan negeri ini, karena tidak hanya seantero tanah papua atau indonesia, tetapi dunia internasional pun tahu kematian almarhum Maikel Kareth. Pernyataan kedua yang disampaikan pihak keluarga yakni meninggalnya almarhum karena ditembus peluru tajam. “Cuma kami tidak tahu oknum siapa yang menembak, atau dari satuan mana yang melakukan penembakan. Jadi kami minta LSM maupun Komnas HAM supaya segera mengusut kasus ini,” tegas Amos Kareth.

Menurut keluarga lanjut Amos Kareth, bukan soal menuntut denda adat berapa banyak rupiah yang harus dibayar, tetapi yang terpenting bagi mereka adalah pelaku penembakan harus diungkap dan harus diberi hukuman seberat-beratnya. “Prinsipnya kami secara iman Kristiani telah memaafkan pelaku penembakan, tetapi yang kami minta supaya penegakan hukum harus benar-benar adil di tanah ini, supaya kami keluarga merasa puas bahwa oh ini pelakunya,” kata Amos Kareth yang menjabat Wakil Ketua PHMJ GKI Kampung Nenas itu usai ibadah Minggu, 8 September lalu.

Menurut keluarga lanjutnya, ujaran kebencian yang berbau rasis di Surabaya dan Malang, telah berdampak luas di seluruh penjuru tanah air bahkan dunia internasional pun tahu. Ujaran kebencian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi jelas-jelas dampak dari itu, telah terjadi korban jiwa. “Jadi kami tidak minta apa-apa, yang kami minta adalah kebenaran dan keadilan itu harus diungkap, siapa pelaku dan dari satuan mana, harus diungkap,” tegasnya.

Sebagai Hamba Tuhan, Amos Kareth menegaskan bahwa kematian almarhum Maikel Kareth, bisa dianalogikan dengan kebenaran Firman Tuhan tentang perjalanan kisah hidup dua bersaudara, Kain dan Habel. Ketika Kain membunuh adiknya Habel, ia berupaya berbohong di depan ayahnya, tetapi kebenaran itu pada saatnya terungkap bahwa kakaknya Kain-lah yang membunuh adiknya sendiri. “Jadi kalau negara menyembunyikan perilaku oknum pelaku penembakan, pasti suatu saat darah akan menuntut dan kebenaran itu akan terungkap pada waktunya,” pungkas Amos Karet. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed