oleh

Bersyahadat Setelah Sekian Lama Pelajari Agama Islam

Kisah Muallafnya Seorang Muslimah

Mempelajari agama baru bukan hal yang mudah, apalagi berpindah dari agama atau keyakinan yang telah dianut sejak lama, terasa sangat sulit. Banyak pertimbangan, baik dari teman, keluarga bahkan orang terdekat pun menjadi tolak ukur sebelum akhirnya mengambil keputusan.

Juhra Nasir, Sorong

SELASA (10/9) kemarin merupakan hari yang tak terlupakan bagi Emil (Umi Kalsum), Jenny dan Mery Nanulaitta. Bagaimana tidak, ketiganya memutuskan menjadi muallaf, memeluk Agama Islam. Ketiganya mengucapkan syahadat dituntun oleh Ketua MUI Kota Sorong, H. Abdul Manan di Gedung ACC Masjid Raya Al-Akbar Kota Sorong.

Jenny, salah satu dari ketiga wanita yang memilih memutuskan memeluk Agama Islam, mengucapkan syahadat sambil menahan tangis harunya. 

Jenny yang lahir pada tanggal 15 Januari 1992, dibesarkan oleh kedua orang tua yang beragama Kristen.

Wanita 27 tahun ini memilih Islam sebagai agamanya, atas dasar keyakinan dan kepercayaannya bahwasanya Tuhan yang akan ia sembah adalah Allah SWT. Jenny semakin yakin memeluk agama Islam ketika dirinya mulai belajar tentang Al-Qur’an kitab suci umat Islam dan membandingkannya dengan kitab suci agama yang dianutnya.

”Saya percaya bahwa Tuhan itu ada dan saya  yakini itu. Saya tidak pernah mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan Islam, namun saya sering membaca Al-qur’an dengan kitab saya kemudian saya berusaha untuk membandingkan dan ternyata memang ada beberapa perbedaannya,” katanya kepada Radar Sorong, kemarin.

Untuk berpindah ke Agama Islam, Jenny mengaku meminta izin kepada kedua orang tuanya. Sebab, alangkah baiknya bila kedua orang tuanya merestui keinginannya untuk memeluk agama Islam. Selain itu, bungsu dari 2 bersaudara ini tidak ingin merenggangkan atau memutuskan tali silahturahmi dengan orang tua yang telah melahirkannya.

Kekhawatiran dilarang berpindah keyakinan, ternyata tidak seperti yang dibayangkannya. Jenny malah didukung penuh oleh kedua orang tuanya. Bagi orang tua Jenny, keyakinan bukan menjadi persoalan. Sebab, semua keyakinan hanya menyembah pada satu Tuhan saja. ”Saya masuk Agama Islam ini juga sudah meminta izin  kepada kedua orang tua saya dan mereka dukung saya. Sebab, bagi mereka tidak ada agama yang berbeda, agama itu hanya menyembah pada satu Tuhan saja,” tuturnya.

Jenny mengakui bahwa pada dasarnya ia pun hidup di lingkungan keluarga yang menganut agama Kristen dan Muslim. Ketika ia memutuskan berpindah agama, tidak menjadi persoalan yang berkepanjangan.  ”Saya juga ada keluarga yang agama Islam dan juga Nasrani, jadi ketika saya minta izin tidak ada masalah dan larangan, bahkan sah-sah saja,” tuturnya.

Saat pertama kali mengucapkan syahadat, air mata haru Jenny tidak bisa dibendung lagi. Sambil menahan tangis haru dan disaksikan ratusan umat muslim di Gedung ACC Al-Akbar Sorong, Jenny dengan lancar mengucapkan syahadat. Sontak saja situasi haru pun menyelimuti prosesi keislaman Jenny.

Selain itu, Jenny mengaku memiliki teman dekat yang beragama Islam, namun bukan menjadi paksaan baginya untuk mengikuti agama teman dekatnya itu, tetapi murni dari hati dan kepercayaannya atas Islam. ”Insya Allah saya akan istiqomah, dan mencoba belajar Al-Qur’an dan itu pasti saya lakukan,” ucapnya. Jenny mengaku menangis di saat bersyahadat, sebab ia merasakan hal baru tercipta di dalam dirinya dan rasa yang berbeda dari apa yang ia rasakan selama ini sehingga ia menagis saat bersyahadat.

Hingga saat ini, Jenny masih menggunakan nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya dan belum merubah namanya seperti salah seorang temannya yang juga bersyahadat di waktu dan tempat yang sama. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed